Celoteh Camar Tolol

May 18th, 2008 by adi-wiyono

Judul posting ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan lagunya Bang Iwan Fals, Celoteh Camar Tolol & Cemar. Hanya saja, untuk sementara waktu aku malas berceloteh.

Di blog ini aku sudah berpamitan meninggalkannya. Dan saatnya pula aku minta ijin untuk beranjak pergi dari sini. Aku sudah ada yang lain saat ini.

Cahaya mata mewakili keindahan pun kesyahduan. Buah cahaya mata ada di beranda depan, yang selalu terdepan. Aku nggak ingin banyak berceloteh lagi. Celotehanku hanya semerdu camar tolol…

Selamat tinggal…

Pak Polisi yang Terhormat

October 22nd, 2007 by adi-wiyono
Pak Polisi yang Terhormat

Masih saja kotaku tercinta dipenuhi oleh warga yang tidak tertib. Salah satunya adalah tidak tertib dalam hal berlalu-lintas. Hal itu akrab aku temui sejak aku masih tinggal disana. Dan sampai sekarang masih saja tetap aku temui. Hari pertama menginjakkan kaki saat cuti lebaran, malam harinya aku coba menuju ke rumah seorang teman di daerah Jalan Gubeng Jaya. Di perempatan Jalan Ngaglik, tepat saat traffic light sedang menyala merah, ketidak tertiban itu muncul.

Para pengendara sepeda motor saling serobot untuk mendapatkan tempat paling depan. Dengan harapan, agar nanti dapat lebih cepat melaju saat lampu menyala hijau. Yang aku sedihkan, hal itu tidak saja dilakukan oleh warga awam namun juga dilakukan oleh seorang Bapak Polisi. Bapak Polisi yang ternyata setelah aku ikuti dia mangkal di pos pengamanan lebaran didepan Mall THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya.

Kalau yang tidak tertib itu seorang warga bisa aku maklumi. Tapi ini yang tidak tertib adalah Bapak Polisi yang Terhormat, yang mendapat pendidikan soal ketertiban lalu-lintas, yang harus menindak pelanggar lalu-lintas dan marka jalan, dan aparatur yang harus menjadi teladan masyarakat. Bapak Polisi ini berada dideretan depan melebihi batas traffic light dan memadati garis zebra cross. Walau tidak semua Bapak Polisi bertindak seperti itu -yang melanggar tersebut biasa disebut dengan oknum- aku semakin tambah apatis dengan POLISI.!

Dimanakah keteladanan Bapak POLISI? Apakah kami boleh menilang Bapak, saat Bapak melanggar ketertiban berlalu-lintas? Tentu saja kami hanya bisa melihat dan terenyuh…

Mudik = Kembali ke Udik

October 9th, 2007 by adi-wiyono
Mudik = Kembali ke Udik

Pemerintah Indonesia akhirnya memperpanjang cuti bersama pada 12-19 Oktober 2007, sebelum dan sesudah hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 Hijriah, 13-14 Oktober 2007. Lho koq… Pemerintah tiru-tiru aku. Hehehe…

Pemerintah baru menetapkan cuti bersama itu Senin (1/10), sedangkan aku sudah menetapkan cuti sendiri -bukan bersama atau bareng-bareng- itu dari tanggal 18 September 2007 lalu. Dan Alhamdulillah cuti tersebut sudah di ACC oleh Bos. Sedangkan tetangga sebelah sangat sulit memperoleh ACC tersebut.

Cuti Idul Fitri berarti Mudik. Mudik berarti kembali ke udik. Udik berarti kampung. Yaaa… Aku pulang kampung… Aku pulang ke Kampung Bonek tercinta. Aku bakal kembali menjadi hitam legam lagi, kembali kucel lagi, setiap hari berteman dengan panasnya kota pesisir laut itu. Beda dengan kota ini yang membuatku tambah putih bersih dan tambah endut.

Banyak kemudahan diberikan oleh-Nya setiap aku ambil cuti. Cuti sebenarnya mulai tanggal 12 Oktober 2007, berhubung bisa tukar shift jadi bisa berangkat mudik tanggal 11 Oktober 2007. Kereta Turangga keberangkatan pukul 19.00 wib yang bakal mengantarkan pulang kampung. Tiket Kereta pun nggak perlu aku peroleh dengan antre berlama-lama di stasiun, tinggal nitip ke teman yang punya koneksi dengan Humas PT KA, tiket pergi pun sudah terbeli. Matur nuwun Cak…!!! Tiket untuk pulang (balik ke Bandung) tanggal 19 Oktober pun tinggal kontak kakak ipar di Surabaya. Esok harinya dering handphone mengabarkan kalau tiket sudah terbeli, dengan kereta yang sama dan harga tiket yang sama pula. Matur nuwun Cak…!!!

Cuti lebaran ini ada satu momen yang sangat aku nantikan. Sungkem ke Bapak tercinta, ziarah ke makam Emak tercinta, dan cium tangan Kakak-kakak tersayang. Hidup ini serasa lengkap sudah. Tak ketinggalan, saat itu aku bisa bercengkrama dengan semua keponakanku. Yang bikin pusing bin puyeng, dompetku bakal terkuras habis buat angpau mereka. Yach, risiko punya banyak keponakan. Hehehe…

Semoga cuti kali ini diberikan kelancaran dan tidak ada halangan seperti halnya cuti terdahulu. Semoga kereta yang aku tumpangi nggak anjlok. Hehehe… "Tapi aku berharap keretane anjlok Di. Khan iso langsung tak liput," kata temenku yang berharap kereta yang ditumpanginya anjlok saat pulang dari Yogya bulan lalu . Dasar otak wartawan, isine pengen liputan terus…..

Selamat cuti buat yang cuti… Selamat merayakan Idul Fitri di kampung halaman tercinta…

Akhire cuti Cuk…..

May 14th, 2007 by adi-wiyono

Akhire Cuti Cuk……

Akhire iso cuti Cuk….!!! Alhamdulillah…. : ) Wah…mari misuh2 koq ngucap Alhamdulillah….???? Arep gak misuh2 yo’ opo…. wong form cuti pertama ditolak karo Bos DMU. Alasannya gak boleh ambil cuti lompat2 pas ada hari libur nasionalnya. Tapi akhire di ACC juga meski dengan form baru dan tanggal cuti yang baru juga. Yo sukur Alhamdulillah….

Padahal itu sebuah strategi supaya cuti bisa lebih panjang dari yang tertulis di form. Strateginya ikutan Gus Faiq yang rencananya ambil cuti dari tanggal 29 Mei sampai 5 Juni 2007. Dengan begitu cuti yang secara formal terhitung 6 Hari bisa membengkak jadi 8 Hari. Untung khan… He-he-he… Kenapa terhitung 6 hari saja…??? Karena pas tanggal 31 Mei dan 2 Juni terhitung libur, soale Koran edisi Jawa Barat tanggal 1 dan 3 Juni gak terbit, melu prei-an : ) Harapan bisa bareng naik pesawat ning Suroboyo bakal gak kesampaian, maklum wong Ndeso arep belajar numpak pesawat.. He-he-he…

Tapi aku durung nyerah, hampir dua minggu mikir strategi sing anyar. Meski ujung2nya ditanyain ama Bos… "Di, jadi kapan kamu ambil cuti…???". Aku jawab seadanya, "masih nunggu kepastian temen Kang… katanya mau janjian pulang Surabaya bareng2..". Dalam hati bertanya2… Kang DMU kenapa ya tadi tanya2..??? Mau mastiin ke kantor Jakarta nyariin penggantiku selama aku cuti, atau… dia berpikir klo aku ngambek gak jadi cuti karna form pertama gak dia ACC.. He-he-he… "Isone koq Su’udzon…. mendingan HUSNA‘dzon.." begitu kata2 yang aku kutip dari Neni

Strategi baru wis ketemu… di form aku tulis cuti dari tanggal 27,28,29,30 Mei dan 1 Juni 2007. Tanggal 31 Mei dan 2 Juni gak aku tulis karna kantor libur. Dengan begitu cuti bisa 8 hari juga meski tertulis cuman 5 hari. Koq bisa….??? Sabtu (26/05) khan kantor libur, jadi bisa pulang Jum’at (25/05) malam. Bonus sehari…. Kamis (31/05) juga libur, Bonus dua hari… Sabtu (02/06) libur juga, bonus tiga hari… He-he-he… Lebih untung… form pertama, cuti 6 hari dapet 8 hari… form kedua, cuti 5 hari dapetnya sama 8 hari…

Walau dengan sedikit intimidasi ke Bos : ) dengan langsung nyamperin beliau ke mejanya. Aku langsung "to the point" mau cuti dari tanggal sekian hingga sekian, dan menyampaikan beberapa alasan yang menguatkan. Akhirnya bos DMU teken juga di form cuti itu… He-he-he…

Banyak "program" melintas yang menjadi agenda selama cuti nanti. Diantaranya ambil komputerku di bekas rental-an dulu. Komputer itu rencananya akan aku serviskan dulu lalu kuperuntukan buat Kakak dan keponakan di rumah. Lalu ada rencana mau beli buku Karya Gus Mus di Rungkut Asri Surabaya. Lanjut, diminta Waty [Nur Rochmawaty] temen SMA, untuk mampir ke kantor dia di Lawang - Malang, tepatnya di RSJ [Rumah Sakit Jiwa] Lawang tempat dia berdinas sebagai PNS disana. Lalu, ketemuan dan kangen2an : ) [kaya' kangen2an ama someone aja] ama Intan n Angger yang mantan temen kerja di Pizza Hut dulu. Ngajak Indro "Klowor" dan Ari’awan nongkrong n ngopi di Karang Menjangan atau di Manyar. Juga, ke Banyuwangi, ke rumah Nanang temen SMU yang April kemarin nikah aku gak bisa datang. Dan masih banyak lagi…

Semoga cuti nanti tidak ada satu halangan dan diberi kelancaran menindak lanjuti "program" yang sudah diagendakan… : ) [Halah... koyo' pejabat wae....]

Ps : Buat Gus Faiq… Selamat…!!! Cuti kamu belum di ACC Bos DMU… He-he-he…

See Also : [Adidassler Blogger] and [Friendster Blog]

“Dunia Bola” Ku Part I

March 14th, 2007 by adi-wiyono

"Dunia Bola" Ku… Part I
                                                                                                     Bolasetan_2
    Teringat kembali saat kelas 6 SD. Saat itu mata pelajaran Olahraga Sepakbola diajarkan oleh Pak Sur, guru olahraga yang terkenal berkarakter kalem. Murid2 kelas 6-B SDN Wonokusumo VI/45 diajak ke lapangan yang berjuluk "gudang peluru", karena lapangan tersebut memang bekas gudang peluru yang letaknya di komplek perumahan Angkatan Laut, Wonosari Besar Ujung, Surabaya.
    Setelah cukup melakukan pemanasan, beliau membagi murid laki-laki kelas 6-B dalam dua kelompok. Setelah komposisi tim pas dan berimbang kami dikomando untuk bertanding. Berhubung saat itu nggak ahli dan nggak suka sama yang namanya Sepakbola, jadi…maen ya sebisanya dan hanya jadi seorang "Back".
    Tim lawan dimotori pemain2 tangguh dan bagus. Dengan penyerangnya bernama Sugeng yang dikenal sebagai anggota Pencak Silat dan lihai dalam Sepakbola. Ya… seorang yang bernama Sugeng inilah yang membuat aku terkapar dan hampir tidak sadarkan diri . Tendangan keras yang dilancarkannya saat menyerang tim kami gagal bersarang ke gawang. Namun, bola liar itu malah mengenai mukaku. Walhasil mukaku langsung terasa bengkak, pusing dan memerah.
    Untung, Pak Sur segera menolong meng-kompres mukaku dengan sebatang es batu. Di pinggir lapangan sambil menahan rasa sakit aku nikmati pertandingan saat itu yang berlangsung seru dan ketat. Dan pertandingan akhirnya selesai juga, kemenangan ada di tim lawan yang memang lebih jago.
      Sepulang dari pertandingan itu aku bertekad belajar Sepakbola supaya nggak dibikin malu lagi. Segera saja aku beli sebuah bola sepak di toko kelontong milik tetangga. Tahap awal aku coba berlatih "pass" dengan menendang bola kearah tembok dan melakukan kontrol saat bola mental balik. Beberapa hari kemudian baru belajar "Dribling" bola. Permukaan jalan yang berupa beton itu aku buat belajar "dribling" kesana-kemari sampai berkeringat. Setalah cukup menguasai akhirnya belajar "Juggling" alias "menimang-nimang" bola dengan kedua kaki.
    Setelah beberapa bulan dan merasa cukup mampu, akhirnya berani juga aku ikutan maen bareng teman2 yang sudah pada jago. Dan akhirnya pula… nggak malu-maluin lagi…he..he..he..Meski tetep maen sebagai seorang "back".   

    And I’ll be Back in Part II…

See Also : [Multiply Blog] and [Adidassler Blogger]
               

Seperempat Abad di Muka Bumi

September 3rd, 2006 by adi-wiyono


Seperempat Abad di Muka Bumi
Saatnya tunggu Giliran Mati…

 

 

Sudah seperempat abad aku dimuka bumi.

 

Aku bertanya kepada Bumi…

 

Apakah kau bosan dengan keberadaanku,

 

Ya aku bosan dengan keberadaanmu diatas punggungku.

 

Kau hanya mampu berpijak dan menginjak,

 

Tak mampu menguak dan menyeruak.

 

Kuak dan seruakan segala keindahan dan kebajikanku,

 

Kuak dan seruakan segala kemahadahsyatan karunia-Nya.

 

 

Sudah seperempat abad aku dimuka bumi.

 

Aku bertanya kepada Langit…

 

Apakah kau bosan dengan keberadaanku,

 

Ya aku bosan dengan keberadaanmu dibawah naunganku.

 

Kau hanya mampu berlindung dan berteduh,

 

Tak mampu menggaung dan mengunduh.

 

Gaung dan unduhlah segala keelokan dan kebijakanku.

 

Gaung dan unduhlah segala kemahaagungan anugerah-Nya.

 

 

Bumi dan Langit pun berucap…

 

Kau sudah terlalu lama diatas punggung bumi

 

Kau sudah terlalu lama dibawah naungan langit.

 

 

Sekarang…

 

Saatnya tunggu giliranmu akan kehadiran mati.

 

 

Seperempat abad dimuka bumi.

 

 

Apakah seperempat abad lagi aku masih berpijak dibumi.

 

Ataukah tinggal seperempat tahun lagi waktuku.

 

Ataukah tinggal seperempat bulan lagi waktuku.

 

Ataukah tinggal seperempat hari lagi…

 

Ataukah tinggal seperempat jam lagi…

 

Atau bahkan seperempat menit lagi…

 

Bahkan pula tinggal seperempat detik lagi…

 

 

Akan aku turuti nasehat Bumi.

 

Akan aku turuti petuah Langit.

 

 

Setelah itu biarkan aku mati…

 

Setelah itu biarkan aku mati…

 

Setelah itu biarkan aku mati…

 

Last BUZZ

August 19th, 2006 by adi-wiyono

"Last BUZZ" di BUZZ Radio 89,7 FM.

Pulang kerja jam 00.00 W.I.Bandung saat lagi capek-capeknya, di kost-an hanyalah sebuah radio usang dan butut temen setia dikala sendiri. Radio pemberian dari Kakak di Surabaya yang memang tahu kebutuhanku dan seleraku akan kebiasaan mendengarkan lagu dan musik yang asik. Radio berwujud sebuah mobil balap bermerk Gillette dengan nomor body 7 -it’s my lucky number Man!!!-.     Sebelum mata terpejam dengan nyaman, aku putar radio itu dengan volume yang "nyaman" pula bagi telingaku. Pilih-pilih Gelombang Radio. Agak lama setelah bingung cari gelombang yang memang enak buat didengerin saat malam dan mata mulai mengantuk, ternyata pilihan tertuju pada sebuah radio yang memang cocok dengan telingaku saat itu. Radio itu adalah BUZZ Radio 89,7 FM. Saat malam mulai larut, Program yang bernama Last BUZZ muterin lagu-lagu yang bernuansa slow, yang memang diperuntukkan memanjakan telinga pendengarnya untuk menikmati alunan lagu merdu sebelum tidur malam Eh… Pagi… Wong udah diatas jam 12.00 malam koq. Uniknya, banyak istilah yang asing bagiku dan istilah itu kreatif banget. Salah satunya, sebutan bagi pendengar BUZZ adalah "BUZZ-ers" ato yang artinya Pendengar Radio BUZZ. Asik khan… Di stasiun radio ini diharamkan memanggil pendengar dengan panggilan Anda, tetapi ada panggilan lain yaitu kalau bagi Cowok dipanggil dengan "BOSS" and kalo buat Cewek dipanggilnya "BABES". Bagi BUZZ-ers yang ingin lagunya diputerin cara minta diputerinnya adalah cukup dengan telpon ato kirim sms yang bunyinya "BUZZ-ing in dunk lagunya…..". BUZZ-ing in….. istilah apalagi tuh… Wah…baru denger tuh… Kreatif khan… and punya karakter banget!!! Radio ini mengingatkan aku saat di Surabaya, jam 12 malam pas di Surabaya ada yang namanya Radio Wijaya FM yang sama muter lagu-lagu Indonesia yang bernuansa slow juga. Namun Wijaya FM cuman ampek jam 2 Pagi sedangkan BUZZ Radio ampek jam 3 Pagi WIB. Sayangnya di BUZZ Radio saat week-end lagu yang diputer gak seperti di Wijaya FM yang khusus muter lagu-lagu Indonesia klasik. Yang pasti dua-dua nya Radio T.O.P bagiku….
Selain BUZZ Radio ada radio lain yang cukup keren juga bagiku untuk didengerin. Radio-radio ini juga hampir mirip ama yang ada di Surabaya. Salah satunya, kalau di Surabaya ada Metro Female yang notabenenya lagu khusus Perempuan, di Bandung ada SKY-FM yang kantornya persis disebelah kantor KOMPAS Jawa Barat di Jalan Diponegoro. Ada juga Female Radio yang segmen pendengarnya juga kaum Hawa.
Kalau buat penggemar lagu-lagu ke-Islam-an atau rohani, di Bandung ada Radio MQ-FM yang notabenenya milik Kyai Kondang asal kota Kembang "Aa GYM ato Abdullah Gymnastiar.
Di surabaya radio ada juga radio yang formatnya Islam, namanya Suara Ampel Denta yang lokasinya ditengah-tengah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya. Dan ada pula Radio yang dikumandangkan oleh Masjid Al-Falah Surabaya, konon menurut Humas MQ-FM yang pernah berkunjung di KOMPAS, Radio inilah yang meng-inspirasi ‘Aa GYM untuk meniru format yang sama dan dikumandangkan di Kota Kembang.
Ada lagi radio yang lumayan asik buat didengerin, namanya B-Radio. Asiknya…. slogannya ituloh… "Keep
Bandung Beautyful Euy…". Asik khan… Dan ada juga radio yang jam 12 siang muter lagu-lagu bernuansa Jawa dan Campursari-an. Tapi aku lupa namanya……………….. Cukup dah… Erroorr utek-ku…!!!

Sunatan Massal, Pernikahan Massal, dan Carok Massal

July 14th, 2006 by adi-wiyono

Sunatan Massal, Pernikahan Massal, dan Carok Massal
OLEH  ADI WIYONO

           Sunatan  massal ataupun nikah massal mungkin sudah akrab di telinga kita. Namun, tanggal 13 Juli 2006 lalu ada istilah baru yang menghiasi headline sejumlah media, baik cetak maupun  eletronik. Sehari sebelumnya terjadi peristiwa berdarah di Madura, Jawa Timur: carok massal. Itulah tragedi berdarah yang bermula dari sengketa tanah. Sengketa tanah kas desa seluas lima hektar antara Kepala Desa Bujur Tengah, Kecamatan Batu Marmer, Kabupaten Pamekasan, Madura, Mursyidin (29), dan mantan Kepala Desa Baidowi berbuntut pada perkelahian yang menewaskan tujuh orang, Rabu (12/7) pagi (Kompas, 13/7).

           Kata ”sunatan”  berasal dari kata sunnah  yang berarti bila tidak dikerjakan, tidak mendapatkan dosa, dan apabila dikerjakan mendapatkan pahala. Namun, sunat (sirkumsisi) dalam adat Jawa diartikan sebagai khitan. Pintu gerbang yang wajib dilalui dan dilaksanakan oleh seorang laki-laki Muslim yang masuk ke ambang usia remaja atau dewasa (akil balig). Dengan sunatan, seorang laki-laki akan terjaga kebersihannya dari hadats yang menempel di ujung kulit kemaluannya. Ini tidak bisa dibersihkan dengan air  karena masih ada sisa air seni yang menempel di dalamnya. Dalam keadaan bersih (suci),  seorang laki-laki Muslim dapat melaksanakan ibadah yang diwajibkan atas dirinya tanpa adanya hadats besar maupun kecil yang dikhawatirkan masih menempel pada tubuhnya.

           Sirkumsisi atau sunatan sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala, dam beberapa agama mengharuskannya, misalnya Islam dan Yahudi. Bahkan, pada awalnya para pendeta Kristen pun diharuskan sunat. Secara medis pun dikatakan bahwa sunat sangat  menguntungkan bagi kesehatan. Banyak penyakit yang dapat dihindarkan dengan sirkumsisi, misalnya phimosis, paraphimosis, candidiasis, tumor ganas, dan praganas pada daerah kelamin pria. Seorang pria dengan proses sunatan yang higienis, pada masa tua akan lebih mudah merawat bagian tersebut, dan secara seksualitas lebih menguntungkan (lebih bersih, tidak mudah lecet atau iritasi, terhindar dari ejakulasi dini).

           Menginjak dewasa (balig) dan mampu melaksanakan kewajiban-Nya untuk beribadah, dengan berbekal kematangan lahir-batin, seorang Muslim juga siap masuk ke tahap selanjutnya, yaitu pernikahan.

           Bila dikaji bedasarkan definisi yang ada, kata ”nikah” mengandung makna aqdu tamlik (akad yang kemudian berkonotasi kepemilikan). Dalam hal ini, perempuan diasumsikan menjadi milik suaminya setelah lepas dari sang ayah. Dalam definisi ini—yang kemudian berimbas pada relasi kuasa yang tidak seimbang antara suami dan istri—, istri seolah menjadi milik mutlak suami, dan hilanglah otoritas diri istri. Keberimbangan juga sangat senjang dalam hal kebebasan menjalin hubungan sosial dengan lawan jenis dari sisi sang istri, meski hubungan itu hanya sebatas hubungan biasa dan tidak istimewa.

                                                                 ***

           Benang merah dapat kita tarik dari rangkaian langkah kehidupan anak manusia di atas. Saat menginjak masa balig, seorang anak laki-laki diwajibkan oleh agama bersunat dan menjalankan ibadah wajib lainnya. Setelah mampu, baik lahir maupun batin, berlanjut ke tahap pernikahan yang merupakan sunnah dari Rasullulah SAW.

           Namun, karena di satu sisi kehidupan perkawinan terdapat ketidakberimbangan dalam hal kuasa maupun  sosial,  seorang istri dari sebuah pernikahan akan menerima kesenjangan yang menyudutkan, bahkan membunuh dirinya. Hal ini secara jelas bisa kita temui di lingkungan kehidupan kita sehari-hari. Seorang suami bisa bebas bergonta-ganti perempuan, namun di sisi lain seorang istri akan terkungkung dengan siklus  kehidupan dapur, sumur, dan kasur.

           Penulis lahir dan besar di daerah pinggiran Kota Surabaya,  dan mempunyai kakak ipar keturunan Madura asal Kota Jember—daerah pinggiran yang identik dengan kekumuhanya dan tingkat kejahatan yang tinggi. Daerah ini  sangat kental dengan kehidupan para imigran  dari pulau Madura. Ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan salah satu ras atau suku tertentu, karena kebencian terhadap suatu ras atau suku tertentu, menurut saya, adalah tindakan yang tidak bernorma. Namun, penulis melihat dengan sudut pandang fakta dan realitas yang memang pernah terjadi.

Seorang istri sering kali menjadi sasaran keabsolutan suami. Suatu pagi di halaman SD tempat keponakan penulis bersekolah, saat sedang asyik-asyiknya bermain waktu jam istirahat di halaman sekolah, tragedi berdarah menghiasi pagi yang ceria kala itu. Seorang suami tega membacok dengan celurit atau carok—dalam istilah Madura— laki-laki yang diduga pasangan selingkuh istrinya. Mayat tergolek berlumuran darah dan tercabik-cabik di depan mata bocah-bocah yang masih polos. Tidak hanya itu, belum terpuaskan dengan membantai selingkuhan istrinya, sang suami pun melanjutkan dengan menghujamkan celuritnya ke arah kepala sang istri tercinta. Dengan kepala berlumuran darah sang istri menghentikan becak dan meminta tolong diantar ke rumah sakit terdekat walaupun nyawanya belum tentu bisa tertolong. Tak ayal, murid dan wali murid yang ada di halaman sekolah saat itu berlarian ketakutan.

Peristiwa lain juga pernah ditemui  penulis. Seorang tukang las karbit, selepas maghrib, ngelurug ke rumah penjual soto khas Madura. Maksud dan tujuannya adalah menyelesaikan masalah harga diri seputar perempuan. Diduga, istri tukang las  bermain cinta dengan penjual soto yang memang sudah bertetanggaan sekitar tiga tahun lebih. Sore itu dengan naik pitam, tukang las  mengajak duel alias carok. Menerima tantangan itu penjual soto langsung saja mengambil celurit yang digantung di dinding ruang tamunya. Duel berlangsung di tengah jalan dan disaksikan kerumunan massa. Tak lama kemudian tukang las tersebut tersungkur ke tanah dengan perut robek dan tangan nyaris putus.

           Begitulah kilasan peristiwa yang terjadi akibat harga diri merasa terinjak. Amarah akhirnya yang berbicara. Harga diri merasa terinjak dikarenakan wanita yang dicinta bermain cinta di belakangnya. Amarah bergejolak, seorang ”pejantan” rela mengorbankan nyawa dengan cara duel alias carok. Memang keberimbangan yang terjadi sangatlah timpang. Di satu sisi, hanya dengan menduga seorang istri selingkuh dengan orang lain, celuritlah yang akan berbicara. Di sisi lain, kalau sang pria selingkuh dengan perempuan lain,  masih ada dua pilihan yang harus dipilih. Selingkuh diam-diam atau menikah untuk yang kesekian kalinya tanpa ada intervensi cemburu atau ancaman celurit ”berbicara”dari sang istri.

           Seorang anak manusia wajib meneruskan dan melaksanakan amanah Nabi, yaitu sunat  dan menikah. Namun, dengan kematangan lahir dan batin saat mengarungi samudra rumah tangga, seyogianya  tidak ada pertumpahan darah. Sebab, hal itu tidak diwajibkan, seperti halnya  sunat atau menikah, bahkan diharamkan hingga ada ancaman neraka bagi yang melakukannya. Tidak pernah Nabi menyuruh umatnya saling membunuh hanya karena harga diri soal perempuan yang nyeleweng. Lain halnya harga diri soal dien yang dinjak-injak, hanya satu tugas kita  yaitu melawannya.

           Carok ternyata tidak hanya berputar pada tataran harga diri soal perempuan yang direbut orang lain. Namun, Rabu pagi (12/7) lalu, carok bisa terjadi dikarenakan  masalah sengketa  tanah kas desa seluas lima hektar saja. Sama halnya dengan masalah  perempuan, masalah tanah sengketa juga dipicu karena harga diri yang merasa diinjak-injak orang lain. Akankah istilah carok massal akan mengakrabi telinga kita, seperti sunatan  massal dan nikah massal ?

           Konon, menurut cerita tetangga yang mengontrak di sebelah rumah, celurit itu sama halnya dengan keris, punya racun yang bisa membunuh korban dengan cepat. Cara menguji ketajaman celurit yang khas adalah dengan mencoba mencukur bulu halus di bagian belakang leher. Celurit bisa dikatakan tajam kalau bisa mencukur sampai habis bulu-bulu halus tersebut.

           Soal carok biasanya juga berkaitan erat dengan masalah pengaktualisasian jati diri sebagai seorang lelaki yang jantan. Penulis mempunyai teman asli Madura yang pernah berkomentar soal carok yang terjadi dengan cara menyabetkan celurit ke belakang korban (lawan caroknya). Katanya,  ”Seorang laki-laki dikatakan tidak jantan kalau hanya berani menyabetkan celuritnya di belakang lawannya”. Lantas penulis menimpali, ”Apakah kamu bisa dikatakan laki-laki jantan, berkomentar tidak jantan di belakang orang yang sedang kamu bicarakan”.

           Kita sadari bersama, siklus kehidupan manusia memang berawal dari alam rahim, lalu kelahiran, kemudian tahapan kehidupan di muka bumi, dan berakhir pada kematian. Namun, sebuah tahapan kematian tidaklah akan harus terjadi dengan cara yang sia-sia dan konyol.

           Sunatan  maupun nikah massal sangatlah mulia tujuannya, yaitu meneruskan sunnah Rasul. Namun, carok massal sangatlah keji dan tidak beradab, walaupun itu sebagai salah satu upaya mempertahankan harga diri dan juga upaya mengaktualisasikan sikap jantan dalam ”kamus”  mereka. Hal  yang paling mengusik pikiran sejak kecil adalah, kenapa kaum hawa dijadikan sebagai bahan bulan-bulanan kebiadaban carok,  seakan-akan kaum perempuan merupakan sumber pemantik utama dan paling sering dijadikan alasan sebuah peristiwa carok. Wassalam.

ADI WIYONO

Alumnus Fakultas Fisip Universitas Airlangga

Sekarang Bekerja di salah satu Media Cetak di Kota Bandung.

Begadang Jangan Begadang…

June 25th, 2006 by adi-wiyono

Begadang Jangan Begadang…

Jadi teringat lagu nya Bang Rhoma….. Begadang jangan begadang….Begadang boleh saja…asal nonton Piala Dunia…:)

Tiap hari kerjaan begadang terus….. Pesona Piala Dunia memang mampu menghipnotis dan mengajak mata untuk bertahan melek hingga subuh hari. Gak masalah…yang pasti jangan sampek ketinggalan Argentina atau Inggris yang maen… Maklum tim favorit…

Tiap hari selama Piala Dunia praktis tidur selalu abis Sholat Subuh. Coz pertandingan Piala Dunia yang digelar di ranah Jerman kali ini memang hadir tiap jam 20.00, 22.00, 24.00 atau 02.00 dini hari. Kelar pertandingan terakhir pasti jam 04.00 pagi. Yach… terpaksa harus begadang dan pulang dari kantor jam 04.30 terus…. yang pasti abis sholat Subuh mata harus terpejam.

Bangun-bangun jam 13.00 atau bahkan lebih… Abis mandi, sholat Dhuhur pergi lagi ngantor… Wuuuiiihhhh…. monoton banget… hidup ini…bosen….:(

Akibat kebanyakan Begadang…kambuh dech penyakit langganan…. "Radang tenggorokan"…

Tenggorokan nyeri and serak, Hidung meler "Pilek", ama suhu badan tinggi…

Alhamdulillah hari ini agak mendingan Man….

Minum Mixagrip buat ngilangin pilek… ama Hemaviton buat nyegerin badan….

Wes..ewes…ewes… Bablas angine….

FIFA Argentina…. & BRAVO England…!!!

June 25th, 2006 by adi-wiyono

"Inna Sholati Wanusukii Wamahyaaya Wamamaati Lillaahi Robbil Alamiin"

= Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, Hidup & Matiku Hanyalah Untuk ALLAH S.W.T. Tuhan Semesta Alam. =